Bahasa Pamona adalah salah satu bahasa yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Poso. Selain itu, bahasa Pamona juga dituturkan di Provinsi Sulawesi Selatan bagian Utara. Bahasa Pamona dituturkan oleh Suku Pamona. Salah satu suku terbesar di Provinsi Sulawesi Tengah khususnya di Kabupaten Poso. Kode bahasa untuk bahasa Pamona menurut ISO 639-3 adalah pmf. Bahasa Pamona juga disebut dengan Bahasa Bare’e, yang mana istilah ini diperkenalkan oleh orang-orang Belanda. Menurut Ethnologue, status Bahasa Pamona saat ini terancam punah. Di mana saat ini, bahasa Pamona sudah jarang dituturkan oleh para kaum muda. Terlebih lagi para orang tua sudah tidak mau lagi mengajarkan bahasa ini kepada anak-anaknya, sehingga para generasi baru tersebut hanya tahu bahasa Indonesia dan juga bahasa campuran serta bahasa Manado. Bahasa Pamona tidak seperti bahasa pada umumnya (tiap kata berakhir dengan huruf vokal maupun konsonan), dalam bahasa Pamona setiap kata pasti berakhiran dengan huruf vokal.

Klasifikasi Bahasa

Menurut Ethnologue, bahasa Pamona diklasifikasikan dalam rumpun bahasa : Austronesia, Melayu-Polinesia, Sulawesi, Kaili-Pamona, Utara, Pamona. Menurut situs An Crúbadán : Austronesia, Melayu-Polinesia, Melayu-Polinesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, Tengah Barat, Kaili-Pamona, Pamona.

Huruf dan Penulisan

Huruf

Bahasa Pamona tidak memiliki huruf sendiri dalam penulisan bahasanya. Sehingga dalam penulisannya menggunakan huruf-huruf Latin dengan jumlah 21 huruf. Dimana 5 huruf vokal dan 16 huruf konsonan.

Huruf vokal : a, e, i, o, u

Huruf konsonan : b, c, d, g, h, j, k, l, m, n, p, r, s, t, w, y

Selain huruf tunggal tersebut, dalam bahasa Pamona dikenal juga huruf-huruf rangkap, dan bisa dibilang jumlahnya tidak sedikit alias banyak. Ada rangkap konsonan, rangkap vokal. Untuk rangkap konsonan ada rangkap dua dan ada rangkap tiga. Beberapa huruf konsonan juga akan berubah bunyi jika di depan huruf konsonan tersebut ditambahkan huruf konsonan pula.

  1. Huruf rangkap dua konsonan : mb, mp, nc, nd, ng, nj, nt, ny.
  2. Huruf rangkap tiga konsonan : ngg, ngk.
  3. Huruf rangkap vokal tanpa apostrof : aa, ai, au, ao, ae, ea, eo, ei, ii, io, iu, ia, ua, ue, ui, uo, oa, oe, oi, ou.
  4. Huruf rangkap vokal dengan apostrof : a’e, a’i, a’a, o’a, o’e, o’i, o’u, e’a, e’i, e’o, u’a, u’i, u’o, i’a.
  5. Huruf konsonan berubah jika digabung huruf konsonan lain : “mw” menjadi “mb”, “ns” menjadi “nc”, “nr” menjadi “nd”.

Huruf-huruf Latin yang tidak digunakan di dalam bahasa Pamona akan diubah sesuai dialek. Atau kadang-kadang beberapa huruf yang memang ada tetap akan berubah jika dipakai di dalam bahasa Pamona.

  1. Huruf “c” akan menjadi huruf “s”, atau sebaliknya;
  2. Huruf “f” akan menjadi huruf “p”;
  3. Huruf “q” akan menjadi huruf “k”;
  4. Huruf “v” akan menjadi “b”, “w” atau juga “p”;
  5. Huruf “x” akan menjadi “s” atau “k”, atau pada beberapa kata untuk tidak meninggalkan cara ucap pada kata asli biasanya huruf “x” akan diucapkan menjadi “k~s~” dimana sesudah masing-masing huruf akan diselipkan huruf hidup sesuai bunyi kata asli;
  6. Huruf “z” akan menjadi huruf “s”.

Contoh Bahasa

Yaku = saya, aku;

Siko = kau (sebaya atau lebih muda);

Komi = kau (sopan);

Si’a = dia (sebaya atau lebih muda);

Sira = dia, beliau (sopan);

Kami/Mami = kami; Kita = kita;

Tau se’e/To se’e = mereka.

Dago = baik;

Ja’a = Jahat;

Lese = bagus; Magaya = Cantik;

Wongo = Nakal.

Moapu = Memasak;

Wombo = Pukul;

Ole = Lihat;

Yore = Tidur;

Linja = Jalan.

Wengi = Kemarin.

Njaa = Apa,

Pia/i mpia = Kapan;

Mbe’i = Mana;

Ri mbe’i = Di mana;

Wambe’i/Wembe’i = Bagaimana;

Mokuja = Kenapa/Mengapa

Penggunaan Bahasa dalam Budaya

Bahasa Pamona dalam pelaksanaannya membangun dan mengembangkan budaya, dipakai untuk lagu-lagu/musik, tarian, ritual keagamaan (untuk kegunaan disini sudah tidak digunakan lagi), pantun (kayori).

Penggunaan Bahasa dalam Masa Sekarang

Pada masa sekarang, bahasa Pamona sudah bisa dikatakan hanya terbatas dalam beberapa fungsi saja. Seperti pada pesta pernikahan, tarian, dan lagu-lagu daerah. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya atau bisa juga disebabkan oleh karena gengsi para kaum muda dalam menggunakan bahasa daerah. Dan lebih disayangkan lagi beberapa anak muda asli Suku Pamona sudah tidak tahu lagi menggunakan atau bahkan melestarikan bahasa mereka.